BAGAIMANA NASIB SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN KESEHATAN KEDEPANNYA?

Berbicara masalah pendidikan sungguh sangat menarik untuk kita simak. Pendidikan bagian dari ruhnya manusia, tanpa pendidikan manusia kan bodoh. Karena dengan pendidikanlah mereka bisa membedakan mana yan baik dan buruk. Ada satu hal yang mungkin kita garis bawahi mengenai pendidikan teruntuk para guru. Tingkatan seorang guru beban kerjanya tentu di sekolah, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga menengah atas ini patut kita berikan apresiasi atas segala dedikasi, kegigihan, kesabaran, ketekunan dalam mengajar dan mendidik hingga pada akhirnya suatu saat nanti akan mengasilkan insan paripurna sumber daya manusia yang berkualitas, unggul dalam segala bidang dan pastinya bermartabat.

Beda halnya dengan seorang dosen yang mengajarkan bagaimana caranya berfikir kritis, ulet serta bisa memecahkan problematika yang sedang berjalan hingga berkelanjutan. Dosen dan guru sama – sama mengajar, hanya saja perbedaannnya terletak pada substansi yang lebih spesifik. Sehingga sangat menarik sekali untuk kita bahas instansi seorang guru yang kita sebut dengan SEKOLAH dan  dosen yang tingkatannya pada sekolah tinggi, politeknik, institut maupun universitas.

Tentu kalau kita melirik dan mengintip antara sekolah dan perguruan tinggi memiliki persamaan dan perbedaan. Jikalau berbicara masalah masa depan, mengajar di perguruan tinggi lebih menguntungkan ketimbang ngajar di sekolah. Itu kalau kita berbicara masalah kesejahteraan antara guru dan dosen. Yang jadi permasalahan sekarang ini adalah banyaknya sekolah swasta bermunculan tidak jelas maksud dan tujuannnya. Mereka berdalih karena sulitnya mengakses pendidikan di daerah tertentu. Jika itu merasa darurat, tidak masalah. Cuma, apakah mendirikan sekolah baru itu tidak menimbulkan masalah? seperti kesejahteraan seorag guru, misalnya. Banyak sisi yang harus kita timbang dan kita perhatikan, jangan sampai kita membuka sekolah baru tapi lupa bahkan mengabaikan dengan yang namanya kesejahteraan seorang guru. Bagaimana bisa seorang guru mengajar secara profesional jika kewajibannnya hanya dibayar dengan keikhlasan? Ke ikhalasan itu penting, tapi harus kita lihat standartnya apa? Jangan – jangan pendirian sekolah baru hanya untuk kepentingan pribadi?

Saya ingin sekali menganalisa jawaban sementara terhadap sekolah kesehatan. Sekolah kesehatan tidak jauh berbeda dengan sekolah kesehatan tingkat perguruan tingggi pada umumnya. Yaitu, sama – sama memiliki kebutuhan besar. Cuma bedanya adalah perguruan tinggi lebih survive daripada sekolah menengah kejuruan kesehatan. Apa yang menjadi permasalahan selama ini? Banyak diantara kepala sekolah kesehatan tidak men-update instansi yang selama ini memiliki sinergisitas dengan sekolah yang mereka pimpin. Contoh kecil misalnya, akhir – akhir ini sebagian laboratorium tidak lagi menerima lulusan dari SMK karena terkait masalah aturan maupun izin operasional. Disisi lain kepala sekolah kurang peka keberadaan laboratorium diluar, saat ini laboratorium mengalami pasang surut bahkan dikatakan lesu, syukur – syukur tidak samapai tutup tikar karena instansi kesehatan pemerintah seperti puskesmas mengharuskan ada labratorium, berbeda dengan tempo dulu dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana. Sekarang, para pasien tidak lagi ke laboratorium swasta yang harganya begitu melangit dan cukup menguras isi dompet.

Kebijakan BPJS menggratiskan pemeriksaan di instansi pemerintah membuat laboratorium swasta cukup ekstra keras. Faktanya, hampir laboratorium swasta melakukan jemput bola bahkan tidak tangung – tanggung memberikan doorprize sebagai tanda terima kasih, ini menandakan bahwa keberadaan laboratorium swasta mengalami pasang surut, kalau tidak begitu mereka tidak bakalan survive. Otomatis, peluang anak SMK yang ingin kerja di laboratorium swasta sangat minim apalagi laboratorium pemerintah. Kalaupun ada, biasaya mereka harus bersaing dengan lulusan yang berasal dari perguruan tingggi setingkat vokasi, secara kualitas jelas jauh berbeda.

Pernah suatu ketika saya bertemu dengan salah satu owner laboratorium Piramida Jember. Sambil menikmati secangkir teh manis hangat saya ngobrol santai terkait laboratorium yang beliau dirikan. Selama saya di jember, saya tahu persis keberadaan laboratorium ini mulai dari tingkat dasar hingga menjadi laboratorium sukses. Keberadaan laboratorium yang sukses ini berasal dari kerja sama (MOU) antar dokter dan perawat yang menaungi si pasien. Cuma, sekarang beliau mengalami kesulitan mencari pasien yang selama ini kebentur dengan kebijakan pemerintah terkait pemeriksaan BPJS gratis di puskesmas dan rumah sakit. Sehingga laboratorium tidak seuntung jaman dulu. Dijaman yang kompleks sekarang ini, pertama harus berfikir ulang untuk berbisnis menawarkan jasa lab, karena mendirikan lab itu membutuhkan dana yang sangat besar. Dengan keberadaan pasien yang selama ini sudah banyak menikmati pemeriksaan gratis, sagat tidak mungkin bagi mereka yang bermodal untuk membuka laboratorium. Kedua, keberadaan laboratorium tidak seperti apotek pada umumnya. Sehingga ada pengaruh dari sisi rekrutmen kelulusan anak SMK. Ketiga, aturan yang ketat membuat pergerakan ruang lingkup lulusan SMK semakin terjepit.

 

Bagaimana dengan jurusan Keperawatan dan Farmasi? Kita tunggu pembahasan berikutnya.

Penulis : Ghorizatul Azizah, S.Farm., Apt.

0 Comments

Leave your comment