Pilih Mana, SMA vs SMK..

Penerimaan peserta didik baru tingkat SMA maupun SMK berakhir sudah. Banyaknya pagu yag tidak terisi menjadi catatan terkait PPDB tahun ini. Selain program keluarga berencana (KB) yang dikatakan berhasil, menjamurnya sekolah swasta di tengarai menjadi penyebab utama tidak terserapnya jumlah siswa sekolah negeri. Saya masih ingat betul tatun 2003 silam, untuk bisa masuk sekolah negeri begitu susah sehingga harus terlempar karena kalah bersaing dengan peserta lainnya. Hal ini berbanding terbalik dengan sekarang, Justru sekolah berlomba – lomba mendapatkan siswa agar pagu tersebut bisa tertutupi. Memang betul pendidikan adalah hak warga negara. Cuma, apabila semuanya tidak di atur sedemikian rupa di khawatirkan persaingan kualitas pendidikan mengalami penurunan. 

Pemerintah seharusnya tidak begitu mudahnya memberikan lampu hijau terkait pendirian sekolah baru. Harus ada pemetaan tepat sasaran terhadap daerah – daerah yang sekiranya di butuhkan pendirian sekolah baru. Ini menjadi bumerang terhadap kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu contohnya adalah sekolah menengah kejuruan atau yang kita kenal SMK. Banyaknya sekolah SMK dengan jurusan minim peminat menjadi polemik. Mengapa tidak? Karena SMK yang ada saat ini tidak di upgrade, jurusan yang di buka saat ini jurusan menoton dengan kategori minim di butuhkan dunia industri atau stakeholder. Oleh sebab itu, pemerintah harus memperketat terhadap pendirian sekolah dan pengajuan jurusan baru, setidaknya harus ada reformasi yaitu Link and match dengan dunia industri perlu dikonkretkan.

SMK jangan dijadikan sebagai transaksional pendidikan 

Sekolah yang di gadang – gadangkan lulus langsung bekerja, justru menjadi sekolah dengan tingkat kelulusan yang menghasilkan pengangguran terbanyak di indonesia di bandingkan dengan SMA. Stereotip masyarakat terhadap SMK bukan lagi marginal. Melainkan sudah dalam bentuk makro. SMK swasta maupun negeri harus membuktikan bahwa lulusannya memiliki integritas yang mempuni dengan lulusan yang terserap di dunia industri ataupun bisa bersaing ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sehingga kekurangan pagu bukan lagi menjadi permasalahan, justru menjadi pemicu semangat meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Tidak berhenti di situ, ternyata minimnya siswa/i di SMK juga menjadi permalahan yang begitu komplek terhadap manajemen sekolah terkait dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) karena tidak memenuhi syarat penerimaan bantuan tersebut. Masa depan guru akan terancam suram efeknya pembelajaran tidak lagi efektif. Kalau sudah begitu siswa menjadi korban sehingga bisa jadi lulusan SMK soft – skillnya kurang. 

 Terobosan besar seperti mengembangkan Center of Excellent (C o E) perlu dilakukan, perlibatan industri dalam menyusun kurikulum merupakan langkah yang tepat. Artinya kurikulum itu tidak hanya melibatkan satu kelompok tetapi dunia industri juga perlu dilibatkan karena denga pengalaman gagasan besarnya kita menaruh harapan aka masa depan pendidikan di negeri ini teruntuk SMK. Jika ini dilakukan, bukan hal yang mustahil orang – orang akan antri berebut masuk ke SMK ketimbang SMA.


Contributor : Ratno BY.

0 Comments

Leave your comment